Tanggapan Orang Madura Terhadap Perang Sampit Review
"Saya punya saudara angkat dari Dayak. Tapi dalam sekejap, tetangga yang dulu ramah berubah menjadi musuh. Sampai sekarang, kalau ada suara kericuhan, jantung saya berdebar. Trauma itu tidak hilang, hanya dikubur," kata Fatimah, seorang penjual soto asal Sumenep yang menetap di Palangka Raya. Yang menarik, tanggapan paling dominan justru tidak mengarah pada keinginan balas dendam. Masyarakat Madura, terutama para tetua adat, justru mendorong rekonsiliasi. Mereka menganggap peristiwa Sampit sebagai "bencana kemanusiaan" yang harus dijadikan pelajaran tentang bahaya sentimen kedaerahan yang dipelihara.
"Orang Madura punya falsafah abantal ombak, alas sendhang (berbantalkan ombak, berkasurkan telaga) — artinya hidup tabah di mana pun. Kami tidak ingin perang adik-kakak terulang. Tanggapan kami hari ini: perkuat dialog budaya, jangan mempertajam perbedaan," tegas tokoh masyarakat Madura di Banjarmasin, H. Rasyid. Secara ringkas, tanggapan orang Madura terhadap Perang Sampit adalah ambivalen . Mereka mengakui ada segelintir oknum dari komunitas mereka yang terlibat tindak kriminal (seperti premanisme atau perusakan hutan) yang memperkeruh suasana. Namun, mereka dengan keras menolak pembenaran atas pembantaian massal yang terjadi. tanggapan orang madura terhadap perang sampit
SAMPIT, Kalteng – Lebih dari dua dekade telah berlalu, namun gurat trauma dan pertanyaan besar masih tersisa. Perang Sampit (2001) yang menewaskan ratusan jiwa dan memaksa eksodus besar-besaran warga Madura dari Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga kini menjadi babak kelam sejarah Indonesia. Di mata publik nasional, konflik ini kerap disederhanakan sebagai "orang Dayak vs orang Madura." Lantas, bagaimana sebenarnya tanggapan masyarakat Madura, baik yang kini kembali ke kampung halaman di Pulau Madura maupun yang masih memilih tinggal di Kalteng, terhadap peristiwa berdarah tersebut? Bukan Agresi, Tapi Reaksi terhadap Stigma Salah satu tanggapan paling umum yang muncul dari komunitas Madura adalah penolakan terhadap narasi bahwa mereka adalah pihak yang "agresor" atau "pemicu" utama konflik. Sejarawan dan budayawan Madura, K.H. Moh. Syafi’i, menyatakan bahwa akar masalah bukanlah kebencian etnis, melainkan akumulasi krisis sosial ekonomi dan ketimpangan struktural. "Saya punya saudara angkat dari Dayak